Sabtu, 18 April 2026 | Jam Digital
 
Home Pemerintah Legislatif Politik Hukrim Selebriti Nasional Pendidikan Ekonomi Travel Sosial Olahraga Teknologi Lifestyle
 
Nurhasanah, M.Pd
LOW PROFILE
Senin, 10-06-2024 - 07:37:05 WIB

TERKAIT:
   
 

#LOW PROFILE


*

"Sutinah."

Seorang gadis menyalamiku, berjilbab pastel, berwajah teduh, senyum semringah dengan tahi lalat di samping kiri netranya yang coklat bulat, alis bertaut dengan anak rambut menyembul di sisi siput yang ia kenakan.

"Rini," balasku ramah.

Sutinah penghuni baru kost putri. Dia sekamar denganku, kamar di kost ini penuh, satu kamar hanya boleh diisi oleh dua orang saja. Hanya tersisa kamarku yang belum berteman, dan ibu kost mewajibkan untuk sekamar berdua.

Setelah perkenalan basa basi itu, aku membantunya membereskan barang barang, mulai hari ini Sutinah resmi menjadi penghuni kost putri.

"Hei ada anak baru! Si Rini main hening aja, kenalin donk, sekalian jadwal piket langsung di tukar ya, tambahin teman baru kamu Rin di daftar." Ria si kepo tingkat elit berdiri berkacak pinggang melewati kamar Rini, mundur cantik tak hendak melewati kamar baru Sutinah, kembali memasang tampang sok cuek ala OB yang sedang ngintip bosnya.

"Eh ... kerja dimana?"

Sutinah diam melirik sekilas, kemudian tersenyum.

"Kamu lagi nanyain aku, ya?" tanya Sutinah ramah.

"Hadehh ya--iyalah kamu, emang disini ada cowo yang mau aku tanyain, kalo nanyain Rini mah ... udah basi." Ria judes memonyongkan bibirnya.

Sutinah menggeleng, sedetik kemudian ia tertawa kecil melihat tingkah Ria si ratu kepo sejagad itu.

"Soalnya namaku Tina, bukan eh ... oh iya aku ngajar ngaji di SD IT dekat sini jadi gak kuliah." Tina menjelaskan tanpa emosi. Aku tersenyum mendengar jawaban Sutinah.

"Ooo cuma ngajar nga ... ji toh." Bibir Ria mengerucut persis es krim yang mulai meleleh, dengan senyum yang sukar dimengerti, ia ber--o panjang bahkan sebelum Sutinah menyelesaikan kalimat tambahan lainnya.

Gadis berjilbab panjang di depanku itu justru tersenyum menanggapi ulasan tentang guru ngaji dengan o panjang.

Ramah, menarik garis bibir ceria, pertanda ia tidak sedang tersinggung. Meskipun ucapan Ria sangat membuat hati krenyes hendak meremas mulut gadis sombong itu.

"Berapa gaji disana?"

Kali ini pertanyaan itu bukan datang dari Ria, tapi si Serli yang luar biasa merasa artis sempurna, wara wiri, lirak lirik barang-barang yang dibawa Sutinah, sesekali netranya mengerjap-ngerjap seakan menemukan barang langka. 

Memindai Sutinah dari atas kepala sampai mata kaki, kemudian berdehem tidak jelas menghadap Ria.

Aku sudah biasa mengahadapi nyinyiers--nya duo maut Ria dan Serli, tapi kali ini, aku tetap harus mengatakan pada Sutinah agar berhati-hati dan waspada terhadap kedua manusia ajaib itu.

"Gajinya, alhamdulillah bisa buat bantu-bantu Umma bayar kos-kosan ini," jawab Tina kalem. 

"Kamu kenal Rian Prakarsa, gak?" tanya Ria, nyelonong masuk ke kamar kami, tegak pinggang sambil observasi merek-merek pakaian dan sepatu milik Sutinah, yang ditanya malah menaikkan alisnya pertanda ia tidak mengenal siapa orang yang disebut Ria. 

Aku tertawa kecil, ternyata Sutinah cerdas membalas elegan kesombongan gadis bermata cipit di depannya.

 Ria memang hobi mengaku punya saudara beberapa pejabat, dan hobinya itu selalu disalurkan ke orang-orang yang ia kenal.

"Masa kamu tidak kenal Rian Prakarsa sih? kuno amat. Pamanku itu--staf ahli di kantor gubernur, ya--pantaslah kamu gak kenal, kerja aja cuma guru honor di SD," ucap Ria ketus.

"Iya, aku jarang - jarang kenal orang, maaf ya?" Sutinah melipat kedua tangannya, lagi dan lagi memamerkan senyum ceria. 

"Kamu kenal gak sama Bupati Kabupaten tempat tinggalmu?" Telunjuk Ria bereaksi naik turun ke udara. Kali ini Sutinah mengangguk.

"Pak Profesor Supardi, Orangnya baik hati, hafal Al-Qur'an 30 juz, ramah dan merakyat." Sutinah menjelaskan rinci profil sosok yang baru saja disebutkan Ria.

"Aku sedang tidak membicarakan pak Supardi, tapi, asistennya. Asisten Bupati itu sepupu kandungku, apapun pekerjaan yang dilakukan pak Bupati pasti dia terlibat, bahkan dia termasuk salah satu protokoler Bupati tersebut, keren kan?"

"Iya, keren, sepupu kamu hebat, bisa dekat sama pak Bupati." Senyum Sutinah semakin lebar. Oh ia, aku lupa bilang, selain kepo, Ria makhluk yang merasa super kaya dan memiliki saudara para penguasa.

Ria itu cuma sales, eh maaf, maksud aku, karyawan pada salah satu perusahaan finance, tugasnya merayu orang-orang agar rela meminjam duit di perusahaannya, dapat fee, padahal Ria lulusan sarjana komunikasi, yah gitu deh. Indonesia. 

"Eh, kamu tau gak, Sutin, oh iya aku panggil kamu Sutin aja ya, kalau gak salah dengar tadi kamu nyebut nama kamu Sutinah kan!" 

Ria menarik napasnya. Membuka plastik berisi buah-buahan yang dibawa Tina. Seakan jijik ia menutup kembali. "itu lo perusahaan minyak terbesar di Medan." Ria menyambung perkataan yang sempat terputus. 

Kutatap Tina mengulum senyumnya lalu menggeleng. 

"Perusahaan itu yang punya sepupu dari menantu tanteku, adik mamaku kerja di salah satu departemennya, gajinya lumayan banget, bisa pelesiran ke luar negeri." Kali ini, bukan Ria yang bicara tapi Serli. Si karyawan toko bakery, lulusan sarjana ekonomi.

"Eh, kata si Rini kamu lulusan S2, sayang banget cuma ngajar ngaji, di SDIT pula, hmmm masih besar gaji karyawan pabrik setau-aku tuh .... "

"Mungkin dia sudah melamar kerja ke sana-kemari tapi enggak lulus." Serli menimpali ucapan Ria.

Ah, demi sambal tomat, cabe rawit, dicampur acar pedas asin, ingin rasanya aku menyumpal dua mulut yang ada di hadapanku dengan sekilo rawit yang habis digeprek.

"Aku suka ngajar, aku jatuh cinta sama yang namanya ngajar ngaji, sama seperti kalian, jika cinta sama satu cowok apa mau di suruh selingkuh?"

Jawaban skakmat.

Ria dan Serli terdiam bersamaan. Kening mereka berkerut. Lagi-lagi Sutinah menyatakan itu semua sambil tersenyum.

 Wanita hebat, pujiku dalam hati. Tidak ada sedikitpun rona marah, kesal apalagi kecewa dari wajahnya.

Ia mulai membuka plastik berisi sambal oseng-oseng. Tempe, ikan teri main bola. 

Asli sambal khas anak kos Indonesia. 

"Yuk, sini makan!" ajaknya ramah. Sambil menuang nasi dari magic com kecil.

Ria dan Serli kompak bergidik, menaikkan bahu, ngeloyor pergi.

*
Waktu terus terlewati, Sutinah seperti biasa menghadapi duo maut ratu sejagad Ria dan Serli.

Hari ini, kami berencana shopping bareng. Ria, Serli, aku dan dua teman lain dari kamar yang berbeda ada Juna dan Meri.

Sutinah sedang memasang jilbab di depan kaca ruang tamu yang memang disengaja pasang besar oleh ibu kost. Agar muat beberapa orang, maklum! Wanita walau sudah rapi, cermin tidak akan dianggurin.

"Hei, semua sini deh!"

Tiba-tiba suara teriakan menolehkan wajahku mencari sumber.

"Ya ampyun tin tin ... eh Sutin. Kamu mau pakai baju ini, ke ... Moolll? Serius?" Tatap toxic alias racun berbisa bisa mematikan dari ucapan itu keluar dari bibir Ria. Ia memindai jilbab Sutinah seakan melihat barang seken yang dilempar ke arah kompor sebagai kain lap.

 Tapi Sutinah hanya membalas dengan senyuman.

"Biarin sih, Ri, kok kepo amat, kan sesuai dengan namanya, ndeso ... mana bisa dia bedain mana pakaian yang nyambung dengan jilbab, mana yang nabrak lari." Serli tertawa terbahak.

"Coba liat, Mer! kalian mau jalan bareng si Tin-tin, pinjamin gih jilbabmu, Mer." Ria memanggil Meri yang baru keluar kamar. Meri yang sudah sangat tahu sikap Ria memilih mengikuti tunjuk tanpa acuh.

"Sebenarnya aku ngomong gini, bukan niat bikin kamu tersinggung lo, Sutin. Aku tu perhatian, aku pengen kamu kayak kita-kita. Cantik. Rapi, nyambung kalau jalan."

"Si tin tin mau ke mol aja pake sepatu sport, emang kamu mau pergi olahraga, Neng?" Serli menimpali lagi. 

"Etapi, kepo amat sih lu, Ri, biarin deh dia pakai gamis tak senada jilbab, atau sepatu sport, bisa jadi gajinya belum cukup. Kan cuma guru ngaji! Lain kalo kayak kamu, kan kerja di perusahaan ternama."

"Iya juga ya, kasihan! tapi aku liat Meri punya jilbab yang senada dengan bajunya Sutin." Lebay melambai, Ria menimpali ucapan Serli.

"Eh, ati ati lo, entar dia kawin sama pejabat atau Rian Prakarsa apes kalian," kelakar Meri ikut nimbrung, dia ngakak besar.

 Alhasil Ria dan Serli menimpuknya dengan bantal kursi.

Gadis yang tengah diceritakan justru senyam-senyum sendiri, seolah menikmati drama berbagai dinamika kehidupan di sekelilingnya.

"Tin, aku pinjamin jilbab, mau?" tawarku hati-hati takut Sutinah tersinggung, aku punya jilbab yang senada dengan warna bajunya.

Entar mengapa, anak-anak di kos-kosan kami punya prinsip hidup kalau pakai baju harus senada semua. Padahal sebenarnya itu justru membuat mata sakit berasa kayak orang dalam penjara.  

Entah mengapa pula aku mengikuti tradisi tersebut. 

Ah, lagi-lagi Sutinah hanya menjawab dengan senyuman.

"Rin, aku suka baju ini, aku juga suka jilbabnya, nyambung atau tidak, sewarna atau tidak senada, itu kan relatif, tidak semua orang punya nilai yang sama dengan Ria dan Serli, plus ini baju dibelikan wali muridku, jadi ... sangat berkesan, satu lagi, di luar negeri orang-orang gak pernah menanyakan apakah ini nyambung atau gak. Kenal Agnez Mo, Anggun, J-Lo, penyanyi-penyanyi luar negeri, selebritis papan atas, mereka justru melihat pakaianku modern banget," Tina menjelaskan panjang lebar, menghampiri aku yang membuka lemari kamar.

"Emang kamu pernah ke luar negeri, Tin?" tanyaku heran. 
Aku malu, gadis ini ternyata punya segudang keistimewaan, lapang dada, hati seluas samudera. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Ria. 

"Gimana? Jadi gak ne nge--Moll?" Sutinah mengangetkan orang - orang yang bengong melihatnya. 

Antara yakin atau tidak, sanggupkah mereka menyatakan teman jika nanti di mall ada yang bertanya.

"Lagian, Rin, Agnes Mo itu artis papan atas yang pakai kaos kaki aja sebelah dengan warna yang tabrakan, satu item garis satunya pink lope lope, eh malah digelar cewe fashionable, trendsetter," bisik Tina di telingaku saat kami memasuki pintu mall. Aku paham maksudnya.

Selebritis Maia Estianty juga suka pakai baju nabrak. Karena artis, mereka justru dikagumi bahkan diberi gelar trendsetter. Kalau rakyat jelata kayak kita pakai, yang seperti mereka pakai eh dikata kampungan. Standar ganda bukan? 
***

Hari ini, Ria si sombong itu demam tinggi, dari pagi tidak keluar kamar, di mall dia menghabiskan es krim campur soda berkapasitas besar dalam wadah gelas sekitar 1000 mililiter, mungkin itu sebab ia demam.

Huek huek ....

Aku mendengar beberapa kali muntahan di kamar mandi. Teman-teman berinsiatif membawa Ria ke klinik terdekat. Dokter praktek Suyono.

Setelah diperiksa, dokter memberi rujukan, mengenali ciri-ciri penyakit yang harus diobati secara intensif, tempat prakteknya tidak memiliki alat. 

Rumah sakit Birle Hospital, aku membaca surat rujukan. Hanya itu rumah sakit yang memiliki alat untuk mendiagnosis penyakit Ria. Muntah dan demam tinggi yang tidak turun setelah minum Paracetamol, membuat dokter Suyono tidak mau ambil resiko.

Rumah sakit swasta terbesar di kota ini, yang pendaftarannya saja membuat aku bergidik ngeri. Pakai kartu sakti BPJS aku yakin akan ditangani nomor sekian. Lewat jalur umum?

 Aku sangat hapal berapa kiriman Ria sebulan, apalagi gajinya, meskipun saudaranya banyak pejabat terkenal--tentu menurut Ria. Aku sudah mengenal lama mereka. Ria tidak akan mampu menjadi pasien umum yang bayar via umum.

Saat sakit seperti ini, apakah Ria tidak berinsiatif menelpon atau memberi kabar pada keluarganya yang kaya raya itu. Ibunya saja baru ditelpon Serli langsung bilang belum bisa jenguk karena adik Ria tidak bisa ditinggal. Nah, Ayahnya hanya kerja buruh ikut orang lain. 

"Ser, coba minta sama Ria nomor telpon saudaranya, atau sepupunya yang kerja di kantor gubernur itu!" saranku mencari cara agar Ria dibawa ke rumah sakit lewat jalur umum agar mudah ditangani.

Serli hanya mengangkat dua bahunya. Birle Hospital, hanya orang-orang berfinansial freedom yang bisa masuk ke sana. Kulihat Sutinah mengurus administrasi Ria, mondar mandir menelpon seseorang.

"Hei, kenapa pada bengong, ayuk panggil taksi, kita bawa Ria langsung ke sana!" Sutinah memberi perintah.

"Tapi, Tin?" Aku dan Serli berucap serempak.

"Tenang saja, rumah sakit yang tidak menerima pasien, izin operasionalnya bisa dicabut," ucap Sutinah santai.

"Kamu tidak sedang mengorbankan uang tabunganmu, kan Tin?" tanyaku meyakinkan. Bisa saja orang baik seperti dia, melakukan hal-hal terlalu baik lainnya. Seperti di film-film religi yang acap kutonton.

Sutinah tersenyum menggeleng.

"Aku tidak sebaik itu, Rini. Kalian, menelpon orangtuanya?" tanya Sutinah, kami berdua mengangguk. 

"Sebaiknya jangan katakan selain sakit demam biasa, kasihan orangtuanya, setelah hasil diagnosa keluar baru kita telpon dan kita bicarakan face to face Ria sakit apa," saran Sutinah.

Mana mungkin orangtuanya bisa datang. Tadi sudah ditelpon Serli, seribu satu alasan menyatakan tidak bisa. 

"Tenang aku bisa telpon para donatur, kalian tenang ya," ucap Tina meyakinkan. 

"Oh, donatur!" balas kami serentak. 

Aku dan Serli akhirnya mengikuti segala perintah Sutinah, Ria sudah tak berdaya, wajahnya pucat. 

Bibir Ria kering dengan tatapan kosong. Kami membawa Ria langsung menuju Rumah Sakit.

Jantungku tetap dag dig dug, semoga setelah hari ini, Ria mampu bersikap baik dan tidak sombong pada semua orang termasuk Sutinah.

Sutinah telah banyak menolong, aku juga tidak tahu bagaimana bisa kami langsung menuju kamar VVIP, tanpa meja administrasi.

Apakah donatur yang dimaksud Tina sangat kaya raya. 

Mungkinkah saudara Ria, karyawan salah satu rumah sakit ini? Ah, yang benar saja. Setelah selesai semuanya, akan kutanyakan pada Tina mengapa begini dan begitu.

Saat ini kami fokus untuk Ria si judes. 

"Palingan si Tina dapat donatur sodara si Ria juga. Aku yakin deh!" 

Suara Serli mengganggu pikiranku.
*

Aku memikirkan cara bagaimana berbicara pada orangtua Ria tentang pembiayaan, dan donatur yang entah siapa, tapi, jika dugaan Serli benar, bahwa ada saudara Ria yang kaya di rumah sakit ini menjadi donatur, sepertinya ia tidak membutuhkan bantuan orangtuanya. Pantas saja orangtuanya begitu enteng tidak datang menjenguk. 

Bukankah selama ini dia memang berkoar-koar soal saudaranya yang kaya raya. 

Dr. Sjaiful. Aku membaca tag name di sudut baju putih dokter yang baru saja masuk ruang rawat Ria. 

Siapa yang tidak kenal Dr. Sjaiful?

 Dokter muda lulusan Jerman, sering diundang beberapa stasiun televisi, deretan dokter muda sukses dengan harta melebihi Sultan para sembilan naga.

Status masih lajang, punya kebun sawit ribuan hektar, bukan rahasia umum masyarakat mengetahui profilnya.

Pantas ia bertugas di rumah sakit ternama ini. Plus smart dan selalu fresh.

"Ini hasil diagnosa sementara, Mbak. Oh iya, setelah sampel darah diambil akan ada cek lanjutan," aku dikejutkan suara perawat yang tiba-tiba nongol. Kemana si Sutinah? Kalau si Serli sih, aku tahu sedang ke toilet.

 Tidak berselang lama, seorang perawat wanita masuk lagi. Membawa nampan berisi makanan.

"Mbak Ria. Jus nya dihabisin ya! Makan yang banyak. Jangan terlalu banyak pikiran dulu, bawa enjoy." Perawat itu tersenyum mengelus punggung tangan Ria yang sedang berinfus.

"Eh, pada kenal Sutinah darimana? Jarang-jarang dia bawa teman langsung ke ruang VVIP lo .... "

"Sutinah?" tanyaku ulang, memastikan aku tidak salah dengar.

"Iya, Mbak Sutinah, yang membawa Mbak Ria kemari," ucapnya meyakinkan.

Aku mengerjit heran, menangkap sesuatu yang tidak beres. Ucapannya seolah mengenal Sutinah begitu lama.

"Sutinah tetangga kamu, ya?" tanyaku penasaran.

"Tetangga?" ulangnya bingung.

"Sutinah itu anak pemilik rumah sakit ini, kabarnya dia sedang menuntaskan hafalan 30 juz dengan menjadi guru di SDIT, yayasan milik keluarganya juga, setelah tuntas hafalannya, barulah mereka menikah sama itu," tunjuk mengetahui pada sosok lelaki incaran banyak dokter muda di rumah sakit terkenal ini. 

Aku cukup tahu berita itu. 

"Sutinah nikah?" Serli berlari demi mendengar kabar aneh itu. Merasa ajaib ada yang mau sama gadis yang menurutnya norak dan kampungan.

"Ya, Sutinah akan menikah dengan dokter Sjaiful,"

Perawat itu berucap santai, sambil memutar regulator selang infus agar cairan masuk sesuai waktu ke dalam tubuh Ria. Kemudian bergegas pergi.

Aku dan Serli masih melongo panjang, sedangkan Ria, kuyakinkan hendak struk. Sutinah masuk ke dalam ruangan seolah tidak terjadi apapun.

"Tin, kamu hutang penjelasan?" 

"Apa yang perlu dijelaskan?"

"Ternyata kamu yang punya rumah sakit ini?"

"Bukan aku, tapi papa," tawa Sutinah masih sama. Tidak sombong dan merendahkan orang lain. Pantesan orang kaya.

Dunia memang seperti itu, banyak yang 'mengaku' kaya akan tetapi meminta tolong kepada orang yang dianggapnya miskin. Yang dianggap miskin ternyata orang kaya yang sebenarnya.

Selucu itu!

Dunia itu sempit, sementara dan tempat persinggahan semata.
Ke ujung manapun berasa, dunia akan menunjukkan identitas siapapun anda.

End

By Inoeng Loebis



 
Berita Lainnya :
  • LOW PROFILE
  •  
    Komentar Anda :

     
    Indeks Berita
    Gerakan Peduli Reteh Diinisiasi Idris Laena Salurkan Bantuan Pada Ratusan Korban Kebakaran di Pulau Kijang
    Minggu 12-04-2026 - 09:23
    Idris Laena : Pihak Terkait Harus Beri Perhatian Atas Kebakaran Besar di Pulau Kijang
    Rabu 08-04-2026 - 20:15
    APN Regional Riau I Pastikan Aspirasi Masyarakat Melayu Riau Ditindaklanjuti
    Selasa 07-04-2026 - 20:49
    Pengalaman Matang di Organisasi, Fairus Dipercaya Jadi Ketua Umum ILUNI Imam Bonjol Riau
    Senin 06-04-2026 - 05:45
    Kisah Idris Laena: Mencerdaskan Bangsa, Membangun Peradaban dari Alexandria Islamic School
    Kamis 02-04-2026 - 18:16
    Ramadan Rasa Lokal: Cerita Berbuka dari Berbagai Penjuru Nusantara di The People’s Cafe
    Senin 23-02-2026 - 15:51
    Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah, Pegadaian Dukung Penerbitan Fatwa Kegiatan Usaha Bulion oleh DSN-MUI
    Rabu 18-02-2026 - 16:51
    Go Global, Pegadaian Raih Penghargaan Internasional atas Penerbitan Sukuk dan Social Bonds
    Jumat 13-02-2026 - 19:20
    Mudik Aman Berbagi Harapan 2026, Pegadaian Kanwil II Pekanbaru Buka Pendaftaran 12 Februari
    Jumat 13-02-2026 - 16:14
    Kinerja Positif PT Penggadaian Kanwil II Pekanbaru per 31 Januari 2026
    Senin 02-02-2026 - 06:09
    The Gade Creative Lounge Pegadaian ke-24 Diresmikan di Universitas Riau, Bentuk Dukungan Pegadaian terhadap Dunia Pendidikan
    Sabtu 24-01-2026 - 10:07
     
         
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    Hak Cipta © Riauberkabar.com | suara rakyat melayu